Objek yang sedang saya amati adalah teman dekat saya, bernama Novita, yang biasa saya panggil Vita. Dia mahasiswa jurusan Akuntansi Universitas Negeri Jakarta angkatan 2011. Dia memakai jilbab dan pakaiannya longgar. Muslimah banget deh, hehe. Kalau pertama kali melihatnya, sekilas mirip artis Titi Kamal. Beneran. Bulu matanya lentik, dengan mata yang jaraknya agak berjauhan yang justru sangat menarik. Hidungnya sedikit pesek tetapi sesuai dengan bentuk wajah, sehingga tidak membosankan kalau dipandang.
Saya mengaguminya, karena semangat menjalani hidupnya yang hebat, sepeninggal ayahnya yang sudah meninggal sejak ia SMP. Ia mendapat beasiswa full masuk UNJ, dan aktif di berbagai kegiatan perkuliahan. Ia sangat terbuka terhadap teman-temannya, dan bisa dibilang pembawa keceriaan di sekitarnya. Walaupun kadang suasana hatinya cepat berubah dalam sehari, dia adalah sahabat yang menyenangkan. Oh ya, dia sudah punya pacar.
Fiksi:
Saya baru saja sampai di sebuah kafe saat waktu menuju jam 9 malam. Vita menungguku disini. Ia penyanyi tetap di kafe tersebut, dan aku ingin melihat penampilannya. Terus terang aku juga cemas dengan keadaannya, mengingat dia baru saja ditinggal pergi pasangannya yang melanjutkan ilmu agama di Pakistan. Karena penampilannya nanti jam 10, masih ada waktu satu jam untuk bercengkrama dengannya. Dia sudah menungguku di sofa panjang yang nyaman dengan minuman ditangannya. Kuharap dia tidak terlalu mabuk, pikirku, karena akan mengganggu penampilannya nanti.
Obrolan kami di dominasi oleh vita dengan pemikirannya, dan juga curhatannya yang ceria. Ia memang selalu berpikir positif, dan aku mengagumi itu. Aku menimpalinya dengan jawaban simpatik dari apa yang ia bicarakan. Memang pengaruh alkohol membuat lidah jadi mengendur, untunglah tidak sampai mabuk. Sampai kita membahas tentang mantannya, ia tetap ceria, ia mengaku tidak akan menghalangi seseorang berkembang maju dengan belajar ke luar negeri. Walaupun tidak ada tanda-tanda galau pada dirinya, aku tetap memberi kata-kata hiburan dan penyemangat kepadanya, karena kutahu hatinya peka sekali, dan sikap cerianya sukses menutupi kegelisahan hatinya. Justru orang-orang disekitarnya harus tetap mendukung dan memberi semangat kepadanya, karena itu aku ada sebagai sahabat yang mungkin ia butuhkan.
Tak terasa satu jam sudah lewat, dan saatnya Vita naik ke panggung kecil di sudut kafe. Sebelum itu, ia mengucapkan terimakasih kepadaku sudah menemaninya malam ini. Dan ia juga sangat terhibur oleh kehadiranku. Karena itu di awal penampilannya, ia mempersembahkan penampilannya malam ini untuk diriku. Tentu saja aku sangat senang. Vita pun bernyanyi penuh ketulusan hati, membuat orang yang mendengarnya terbuai terbawa perasaan dalam lagu yang dinyanyikan.
Baiklah itu saja cerita yang saya buat untuk postingan kali ini. Karakteristik orang yang saya amati benar-benar nyata, namun cerita situasinya saya buat sendiri. Rasanya menyenangkan dan ada keintiman seorang sahabat dari cerita yang saya buat. Jarang ada yang seperti itu.
Terima kasih. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar