Saya baru saja menonton film Hollywood yang diputar tahun lalu, 12 Years a Slave. Saya berterimakasih sama teman saya, Wini, yang memberikan softcopy film ini. Sebelum menonton film ini, saya sudah tahu kalau film ini merupakan film bagus yang mendominasi Academy Award atau yang sering kita dengar dengan Piala Oscar, penghargaan yang paling bergengsi sejagat. Karena itu, saya meminta softcopy film ini (tentu saja dari hasil download gratis, he he) dari teman. Dan setelah saya menontonnya, memang keren cooy!!.
Film ini merupakan film epik sejarah di Amerika Serikat, yang diadaptasi dari memoar (buku catatan) orang kulit hitam bernama Solomon Northup berjudul sama. Jadi film ini berdasarkan kisah nyata seseorang. Latar film ini berada di Amerika Serikat, tahun 1841, dimana di tahun tersebut perbudakan masih mendominasi dengan orang kulit hitam sebagai korban.
Awalnya, Solomon Northup merupakan orang Negro yang bebas, yang bekerja sebagai tukang kayu dan pemain biola. Namun ada dua orang yang mendatanginya, menawarkan Northup menjadi musisi mingguan, dan sejak itu nasibnya berubah. Dia ditipu oleh dua orang tersebut, dibuat mabuk dan setelah sadar sudah berada di kurungan, hendak dijual menjadi budak. Dia diberi nama Platt selama menjadi budak. Dia dikirim ke berbagai tuan tanah dan bekerja untuk mereka. Banyak siksaan yang Northup/Platt terima semasa menjadi budak. Dan setelah menderita selama dua belas tahun, akhirnya dia bisa menghirup kebebasan. Kisah bebasnya unik. Saat itu tuan tanah tempat Northup/Platt bekerja sama dengan orang Kanada kulit putih untuk membangun paviliun disekitar rumah tuan tanah tersebut. Orang Kanada tersebut sangat menentang perbudakan dan tidak disukai tuan tanah tersebut. Northup lalu menceritakan kisah hidupnya kepada orang Kanada tersebut dan akhirnya orang tersebut memperjuangkan kebebasan Northup.
Saya sangat senang menonton film ini. Selain sebagai rekreasi, kita dapat pelajaran tentang sejarah dunia. Saya selalu tertarik dengan sejarah. Di film ini penuh dengansejarah kulit hitam di Amerika Serikat, juga tentang perbudakan yang saat zaman sebelum revolusi industri sangat marak terjadi. Perbudakan pada zaman itu sangat memprihatinkan. Para orang kulit hitam mendapat perlakuan bak binatang, selalu dicambuk, digantung, diperkosa, pokoknya diperlakukan tidak adil. Saya sempat tidak tega melihatnya.
Pecinta film pasti tahu nama Bennedict Cumberbatch, Michael Fassbender, sampai Brad Pitt. Walaupun mereka hanya pemeran pembantu, karena pemeran utamanya orang kulit hitam (Chiwetel Ejiofor sebagai Solomon Northup), akting mereka sangat berkualitas. Segi pengambilan gambarnya juga pas, dengan mengambil gambar di ladang daerah Lousiana, Amerika Serikat, yang mempesona.
Kekurangan yang saya lihat di film ini, adalah durasi waktu yang agak lama, sekitar dua jam lebih. Juga di akhir film ada kredit tentang nasib Solomon Northup setelah bebas dari perbudakan dan menuntut orang yang menindasnya. Seharusnya bagian ini diambil gambarnya, walaupun tidak banyak.
Saya merekomendasikan teman-teman untuk menonton film ini. Sumpah, tidak rugi. Pantas jika film ini dapat piala Oscar. Keren.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar