Rahmat sedang merasa tua. Itu tidak mengherankan, karena menurut banyak orang ia memang sudah tua. Para remaja yang sembrono akan mengatakan, "Rahmat tua itu? Dia pasti sudah berumur seratus tahun, atau paling tidak delapan puluhan." Bahkan gadis-gadis ramah pun mengatakannya diam-diam, "Oh Rahmat. Ya, dia memang sudah tua. Umurnya pasti sudah enam puluh." Padahal sebenarnya ia berumur 69.
Bagaimanapun, ia tidaklah tua. Tapi merasa tua, itu berbeda. Suatu keadaan yang letih, muram, dan membuat orang jadi mengajukan pertanyaan yang mematahkan semangat. Apa arti dirinya? Laki-laki tua yang keriput, tanpa istri dan anak, tanpa sanak saudara satupun. Tak seorang pun peduli apakah ia hidup dan mati... Tetapi untunglah ada satu hal yang menyelamatkannya, dan itu adalah minatnya yang besar pada masalah orang lain.
Begitulah sepenggal hidup seorang Rahmat, laki-laki tua yang cukup sukses secara materi tapi tidak dengan kehidupan pribadinya, meskipun ia menaruh minat yang besar pada masalah orang lain dan dijuluki "Spesialis Ketidakbahagiaan". Pasangan yang tua maupun yang muda yang punya masalah pasti berhadapan dengan beliau dan masalahnya pasti teratasi.
Namun Rahmat sedang mengalami fase down dalam hidupnya. Di umur yang sudah lebih dari setengah abad, ia merasakan yang belum pernah dirasakan sebelumnya, yaitu merasa tua. Bagaimanapun, ia harus menyingkirkan perasaan itu jauh-jauh dari dirinya, dan memfokuskan diri pada masalah orang lain. Siapa tahu ada skandal yang menghampiri orang-orang terkenal dan bantuannya dibutuhkan. Dan juga menemukan kembali semangat hidupnya.